Rhio Kurniawan. Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Nata Prayoga Blog

Diary Seorang Komedian

# Bintang yang Tak Bisa Dikembalikan

---

Ada lagu yang tidak pernah berani ia putar terlalu sering.

Bukan karena lagunya jelek. Justru sebaliknya — lagu itu terlalu indah, dengan cara yang menyakitkan. Melodi sederhana dari game lama yang ia mainkan waktu kecil, musik yang entah bagaimana berhasil menangkap sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata: perasaan bahwa waktu sedang berjalan, bahwa dunia sedang berputar, bahwa ada hal-hal yang pergi tanpa pamit.

Malam ini, Rayan memutarnya lagi.

---

Ia duduk di dalam mobil yang diparkir di pinggir jalan kampung. Mesin sudah dimatikan. Di luar, angin menggerakkan daun-daun mangga tua — pohon yang sama, ia yakin, yang dulu sering ia panjat. Lampu-lampu rumah warga berkelip seperti kunang-kunang yang malas. Tidak banyak yang berubah dari tampilan luarnya. Tapi Rayan tahu — semuanya sudah berubah. Termasuk dirinya.

Ia berusia tiga puluh empat tahun sekarang. Terakhir kali ia benar-benar *pulang* — bukan sekadar mampir untuk lebaran lalu langsung balik — adalah dua belas tahun lalu.

Dua belas tahun.

Lagu itu terus mengalun dari speaker kecil di ponselnya. Musik dari game yang dibuat hampir tiga puluh tahun lalu. Musik tentang waktu yang berlalu, tentang realitas yang bercabang-cabang, tentang kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah kita pilih.

*Kenapa musik lama selalu lebih jujur dari kata-kata?* pikirnya.

---

Namanya Sari.

Rayan tidak butuh waktu lama untuk sampai ke sana — ke nama itu. Ke wajah itu. Ke sore-sore yang dulu terasa seperti tidak akan pernah habis.

Mereka bertemu di kelas empat SD. Sari duduk dua bangku di depannya, dengan dua kepang kecil yang tidak pernah simetris dan kebiasaan menggigit ujung pensilnya saat berpikir. Rayan tidak tahu kapan persisnya ia mulai memperhatikan detail-detail kecil itu. Tiba-tiba saja ia hafal — cara Sari menoleh ke kiri sebelum menjawab pertanyaan guru, cara ia tertawa dengan menutup mulut menggunakan punggung tangan, cara ia berlari dengan langkah yang terlalu besar untuk ukuran kakinya.

Perasaan itu tidak punya nama waktu itu. Rayan terlalu kecil untuk tahu bahwa apa yang ia rasakan adalah sesuatu yang nantinya akan ia rindukan seumur hidup — bukan orangnya saja, tapi *versi dirinya* yang merasakannya. Anak laki-laki sebelas tahun yang jantungnya berdegup keras hanya karena Sari meminjam penghapusnya dan berkata, *"Makasih ya, Ra."*

Mereka tidak pernah benar-benar bersama. Tidak dalam arti yang orang dewasa pahami. Tapi ada satu sore — satu sore yang Rayan simpan seperti foto dalam dompet, dikeluarkan sesekali, ditatap lama-lama — di mana mereka duduk berdua di teras belakang rumah Sari, mendengarkan hujan, dan Sari berkata tanpa melihat ke arahnya:

*"Aku harap kita bisa tetap kayak gini terus."*

Rayan tidak menjawab. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya mengangguk, dan mereka berdua kembali mendengarkan hujan.

Setahun kemudian, keluarga Sari pindah ke Surabaya.

Setahun setelah itu, keluarga Rayan pindah ke Jakarta.

Dan waktu terus berjalan, seperti yang selalu dilakukannya — tanpa meminta izin, tanpa menoleh ke belakang.

---

Rayan keluar dari mobil.

Udara malam kampung berbeda dari udara Jakarta. Lebih berat, lebih basah, tapi anehnya lebih mudah untuk dihirup. Ia berjalan perlahan menyusuri jalan yang dulu ia hafal seperti hafal telapak tangannya sendiri. Melewati warung Pak Slamet — sekarang sudah jadi minimarket kecil, tapi catnya masih warna hijau yang sama. Melewati lapangan yang dulu jadi arena perang bola — sekarang sudah dipasang paving block dan ada gazebo di tengahnya.

Ia berhenti di depan sebuah rumah.

Rumah Sari.

Catnya berbeda. Pagarnya baru. Ada tanaman hias di teras yang dulu kosong. Orang lain yang tinggal di sini sekarang — sudah sejak lama, ia tahu. Tapi kakinya tetap membawanya ke sini.

*Apa yang kamu cari, Yan?*

Ia tidak bisa menjawab pertanyaannya sendiri.

Mungkin ia tidak mencari apa-apa. Mungkin ia hanya ingin berdiri di sini — di titik ini, di koordinat GPS yang dua puluh tahun lalu pernah menjadi pusat semestanya — dan mengakui bahwa ada sesuatu yang hilang. Bahwa "pertama kali" tidak bisa diulang. Bahwa momen-momen yang paling menempel di ingatan justru adalah momen-momen yang tidak pernah kita tahu sedang kita simpan.

Hujan sore itu di teras belakang.

*Aku harap kita bisa tetap kayak gini terus.*

Ia tidak pernah bilang ke Sari bahwa ia juga berharap begitu. Bahwa ia masih berharap begitu, bahkan sekarang, bahkan setelah dua puluh tahun dan satu pernikahan yang kandas dan hidup yang terus bergerak maju tanpa banyak bertanya.

---

Di ponselnya, lagu itu masih mengalun.

Musik dari game lama tentang waktu yang berlalu dan realitas yang bercabang. Tentang jalan-jalan yang tidak dipilih. Rayan pernah membaca bahwa musik itu dibuat oleh seorang komposer muda yang waktu itu tidak terlalu memikirkan makna di baliknya — ia hanya ingin membuat sesuatu yang terdengar seperti *perjalanan*.

Tapi musiknya menangkap lebih dari itu. Entah bagaimana, tanpa sengaja, ia menangkap *kehilangan*. Ia menangkap perasaan berdiri di persimpangan dan menyadari bahwa beberapa jalan sudah tertutup selamanya — bukan karena bencana, bukan karena kesalahan besar, tapi hanya karena waktu berjalan dan kita ikut bergerak dan tiba-tiba kita sudah terlalu jauh untuk kembali.

Rayan menarik napas panjang.

Bintang-bintangnya — masa kecil itu, sore-sore hujan itu, Sari dengan dua kepang yang tidak simetris itu — sudah semakin jauh. Setiap tahun selalu lebih jauh. Dan tidak ada jalan untuk kembali, bahkan kalau ia bermain ulang game lamanya, bahkan kalau ia pulang ke kampung ini setiap bulan, bahkan kalau ia berdiri di depan rumah ini sampai fajar.

Pengalaman pertama tidak bisa diulang. Itulah yang membuatnya berharga. Itulah juga yang membuatnya menyakitkan.

Ia memutar balik langkahnya, kembali ke mobil.

Sebelum masuk, ia berhenti sebentar dan mendongak. Langit kampung masih bisa menunjukkan bintang — sesuatu yang Jakarta sudah lupa caranya. Banyak sekali, berpencar seperti garam tumpah di atas kain gelap.

*Kamu masih di sana,* pikirnya. *Bukan bintangnya. Tapi kenangan itu.*

*Cukup.*

---

Ia menyalakan mesin. Lagu itu selesai, lalu mulai lagi dari awal — seperti yang selalu dilakukan lagu-lagu lama. Tidak seperti masa kecil. Tidak seperti cinta pertama. Tidak seperti sore-sore yang terasa tidak akan pernah habis.

Tapi setidaknya ada yang mau mengulang.

Rayan tersenyum tipis, lalu mulai mengemudi — pelan-pelan, menyusuri jalan kampung yang dulu ia hafal seperti hafal telapak tangannya sendiri, untuk terakhir kalinya malam ini.

*Jalani hidupmu. Kita hanya di sini sebentar.*

---

*— selesai —*
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About Me

About Me

Pengikut

Label

  • Cerita Komedi
  • Curhatanku
  • Motivasi
  • Tutorial

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • youtube

Postingan Populer

  • ALUR CERITA : ALUR MAJU, ALUR MUNDUR, DAN ALUR CAMPURAN
    1. Alur Maju : Ceritanya bergerak maju. Contoh sederhananya adalah misalnya cerpen itu awalnya menceritakan tentangg seorang anak k...
  • Balada Jomblo dan Penderita gangguan jiwa
    Balada Jomblo ODS .. terkadang, enggak enak juga "terkenal" di lingkungan  karena memiliki status ODS (Orang dengan skizofreni...
  • Cara Menulis Alur & Plot Cerita
    Oleh: Joni Lis Effendi Trik Sederhana Menulis Alur dan Plot Cerita Galau mau bedain alur dan plot? nih, KA kasih tahu gimana caranya ...
  • IDE KONTEN INVIDEO AI
    IDE KONTEN INVIDEO AI buatkan 3 kata motivasi bergaya stoicism  dalam bahasa inggris 
  • Echoes of the Night (confia en mi)
    In the silence of the cold night,   my sighs drift like the light,   I feel you near, though you're far,   like whispers echoing in a st...
  • Una Franela
    [Verse 1] Algo va a pasar esta noche Esto va a explotar esta noche Yo quiero masa en la pista Como la lengua de Dali [Verse 2] Somos eso que...
  • Kena Gigi, Uang Kembali
    Kena GIGI, Uang Kembali. Tahun 2008 dahulu,  ialah zaman jaya nya Game Online  PC dan Warnet khusus Game. Saat itu aku kecanduan Game Onli...
  • Kisah PSK paruh baya.
    Zaman itu aku masih 18 tahun. Masih hobi berpetualang keluar kota bila hari libur kerja. Suatu hari , saat pulang dari Surabaya dengan Kere...
  • Tragedi pengantin sunat
    Tragedi Pengantin Sunat. Aku mengalami sirkumsasi atau disunat saat SD. Akupun tak tahu awalnya, Awal Mulanya Bapakku saat magrib mengaja...
  • Kisah Li shu wen
    Konsistensi Dalam dunia kungfu china, ada seorang ahli kungfu terkenal. namanya Li Shuwen. (dalam manga kenji = Lie Syo Bun). ...

Arsip Blog

  • ▼  2026 (1)
    • ▼  September (1)
      • Cerpen Star Stealing Girl
  • ►  2025 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2024 (95)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (77)
    • ►  Oktober (17)
  • ►  2022 (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2021 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Februari (4)
  • ►  2020 (7)
    • ►  Desember (5)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2019 (33)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (5)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (6)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2018 (16)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2017 (13)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2016 (4)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2015 (26)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (14)
    • ►  Agustus (4)

Created with by ThemeXpose | FreeBloggerTemplates.org