Rhio Kurniawan. Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Nata Prayoga Blog

Diary Seorang Komedian

Diujung usaha yang keras, ada mimpi yang bisa dicapai
--------------------
Saya teringat kata sensei di kursus bahasa jepang level N3 yang mungkin menarik untuk saya bagi,

継続は力なり
Keizoku wa chikara nari
“Continuance is power/strength. “

Kalimat ini menjelaskan bahwa melakukan sesuatu dengan terus-menerus memang menyakitkan, tapi akan menjadikan kita orang yang selangkah lebih maju diantara yang lainnya yang tidak melakukannya.

Sensei dulu menjelaskan ini buat memberi semangat para murid supaya tabah dalam berjuang meraih mimpi atau melakukan hal apapun.
Mungkin juga bisa saya tujukan untuk orang yang memiliki penyakit kambuhan dan sedang berobat rutin.
Dalam jangka panjang, melakukan hal yang sama kadang terasa menyakitkan.
Kadang dalam diri timbul rasa bosan, jenuh atau rasa putus asa akan harapan kesembuhan dan bebas dari penderitaan.

Belum lagi godaan dari luar, kadang ada yang memberi stigma yang terasa menyakitkan.
Misalnya minum obat terus menerus dianggap orang masih sakit dan tubuhnya kecanduan obat kimia.

Akan tetapi, pada akhirnya kita akan menjadi seseorang yang berbeda . pribadi yang lebih baik.
Setidaknya, lebih baik daripada orang yang punya penyakit kambuhan tapi tak mau minum obat.
Misal para ODGJ yang sekarang minum obat, lihatlah keadaan saudara kita ODGJ lain yang tak mau minum obat.

Lihat betapa hancur kehidupannya karena tak mau berusaha berobat seperti kita.

Jadi, usaha terus menerus, membuat kita lebih baik daripada yang tak mau melakukannya.

成功する人 ,と 成功できない人
“orang yg (telah) berhasil” dan “orang yang tak berhasil”
bedanya hanya di

継続すること
keizoku suru koto
“melakukan sesuatu secara berkelanjutan”

dan ingatlah !!!

努力の先には必ず『叶えたい未来』があったはずです。
Doryoku no saki ni wa kanarazu “kanaetai mirai” ga atta hazu desu.

“Di ujung dari usaha keras kita,pasti ada “cita² dan impian yg bisa kita capai”

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Menuju masa depan ( Mirai E )

Yang menentukan sukses di masa depan kita, ialah kita sendiri. Bukan orang lain..

Ada ungkapan bahasa jepang :

Akirametara , Shiai Ga Owaru..!!

Bila kita menyerah (dalam pertarungan) , maka pertarungan selesai (kita kalah).

Makna kalimat itu ialah, hidup ini, masa depan kita itu ibarat sebuah pertarungan dalam sebuah kompetisi.

Kompetisi kehidupan..
Yang hasil kompetisi itu ialah masa depan kita.

Walaupun kita gagal , asalkan kita tidak menyerah..
Kita masih ada peluang untuk sukses..

Walaupun peluangnya cuma 0.01 % ,
Tapi masih ada kemungkinan kita untuk berhasil suatu saat.

Namun apabila kita menyerah,
Peluang itu jadi 0%

Jangan takut untuk mencoba menapak jalan untuk masa depan.

Penting bagi seorang yang sudah gagal berkali kali, untuk coba lagi..

Bagi rekan ODS yang sedang berjuang buat pulih, dan merasa letih, capek bolak balik berobat lalu mau menyerah dan mengakhiri hidup,

Jangan engkau akhiri hidupmu..
Kamu tidak sendiri..

Teruslah hidup dengan kepala tegak

ほら足元を見てごらん
これがあなたの歩む道
ほら前を見てごらん
あれがあなたの未来

Ayo lihatlah langkah kakimu
Itulah jalan hidupmu

Ayo lihat juga ke depan
Disanalah masa depanmu

------------------
Bukan demi orang lain,
Tapi demi dirimu.. Masa depanmu

Anata no Mirai

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Filosofi Ngopi dan Gangguan kecemasan/Anxietas.

Kopi itu adalah minuman sederhana.
Terbuat dari bahan dasar biji kopi yang disangrai lalu ditumbuk.

Kemudian bahan campuran lain dan proses selanjutnya menentukan rasa dan nama kopi itu berubah jadi apa.
Mungkin dia akan berubah jadi "Kopi susu" bila dicampur susu.

Atau jadi "Kopassus" , Kopi asli tanpa susu.

Bila mau dicampur susu tapi ternyata susunya habis.

Apapun namanya, Kopi adalah minuman sejuta umat . ada dan hadir disetiap tempat.

Mulai dari Gerai Starbak tempat nongkrong para sosialita , sampai kedai kopi kecil tempat nongkrong para mahasiswa akhir bulan.

Secangkir kopi memiliki sebuah filosofi,
Misalnya Secangkir Kopi itu Pahit..
Orang akan berkata , Gulanya kurang
Bila kopi itu terlalu manis,
Orang akan berkata , Gulanya terlalu banyak.
Dan ketika campurannya pas,  orang akan berkata..  Kopinya mantaap!!

Gulanya tak pernah di mensyen atau dianggap ketika Kopinya enak.
Dia juga yang selalu disalahkan ketika kopinya tidak enak,bukan sang kopi.

Bahkan ketika kena penyakit diabetes,  sang gula akan disalahkan lagi.

Dalam banyak hal,  Kebaikan yang kita tanam kadang tidak dianggap. Dan hanya keburukan yang sering dicari dan diperhatikan.

Dan kadang kita harus ikhlas karenanya.
Kebaikan memang tidak selalu harus diperhatikan.

Tapi, walau filosofinya terasa tidak adil antara kopi dan gula,

saya tetap suka ngopi
Kalimat diatas hanyalah sebuah rangkaian kata.
saya tak bisa membela si gula dan menyalahkan si kopi..

Saya tetap suka ngopi walau memiliki gangguan kecemasan atau anxietas

loh apakah hubungannya ?
Masalahnya itu pada kandungan dalam kopinya.
Yaitu  kafein yang berlebihan bisa menyebabkan gangguan asam lambung (maag) bagi yang bermasalah asam lambung.
Imbasnya, bisa membuat timbulnya gejala gangguan kecemasan.

Karena system syaraf yang mengatur gangguan kecemasan dan asam lambung itu masih satu kelurahan. Saling mempengaruhi.
Jadi bila bermasalah pada lambung, sering timbul masalah kecemasan.begitu pula sebaliknya.

Makanya kadang pasien dengan gangguan asam lambung akut banyak yg diberi resep obat anticemas benzodiazepine macam alprazolam,lorazepam dan sebagainya

Well, tapi saya tak bisa menolak kopi. Karena bagi saya, kopi layaknya susu dalam skema klasik "Empat sehat, lima sampoerna" , rasanya kurang lengkap jika sehari tak minum.

Akan tetapi akan lebih bijak bila saya dibatasi asupan kopi,  apabila punya masalah gangguan kecemasan atau gangguan lambung.

Terutama asupan kafein dan asamnya perlu diperhatikan.
Bisa diganti kopi instan, kopi rendah asam/rendah kafein atau diperbanyak campuran selain kopinya. Misal bila jadi Barista dan sedang meracik sendiri. kandungan moka, coklat,  krimer atau susunya diperbanyak dikit.

Bila kebanyakan minum Kopassus, Kopi asli tanpa susu...

Bisa-bisa kamu melek 7 hari , 7 malam

Ingat pesan Haji Rhoma Irama :

Jangan bergadang

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Hidup itu tak selalu indah, namun yang indah tak akan pernah terlupakan

Orang tak semuanya baik, namun orang baik tak akan pernah terlupakan

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Romusha, Luka Bangsa yang Tidak Pernah KeringRomusha, Luka Bangsa yang Tidak Pernah 

ROMUSHA : PEKERJA PAKSA ZAMAN PENDUDUKAN JEPANG

Luasnya daerah pendudukan Jepang, menyebabkan Jepang memerlukan tenaga kerja yang sebanyak-benyaknya untuk membangun sarana pertahanan berupa kubu-kubu pertahanan, lapangan udara darurat, gudang bawah tanah, jalan raya dan jembatan. Tenaga untuk mengerjakan semua itu, diperoleh dari desa-desa di Jawa yang padat melalui sistem kerja paksa yang dikenal dengan Romusha.
Romusha (buruh, pekerja) adalah panggilan bagi orang-orang yang dipekerjakan secara paksa pada masa penjajahan Jepang di Indonesia dari tahun 1942 hingga 1945. Romusha adalah sebuah kata Jepang yang berarti semacam “serdadu kerja”, yang secara harfiah diartikan sebagai seorang pekerja yang melakukan pekerjaan sebagi buruh kasar. Kebanyakan romusha adalah petani, dan sejak Oktober 1943 pihak Jepang mewajibkan para petani menjadi romusha. Mereka dikirim untuk bekerja di berbagai tempat di Indonesia serta Asia Tenggara seperti Birma, Muangthai, Vietnam, Malaysia, dan Serawak. Jumlah orang-orang yang menjadi romusha diperkirakan mencapai 4-10 juta orang.
Tenaga romusha diperoleh dari desa-desa di Jawa yang padat penduduknya melalui program Kinrohosi/kerja bakti. Pada awalnya mereka melakukannya dengan sukarela, lambat laun karena terdesak perang Pasifik maka pengerahan tenaga diserahkan pada panitia pengerahan (Romukyokai) yang ada di setiap desa. Waktu itu setiap kepala keluarga diwajibkan menyerahkan seorang anak lelakinya untuk berangkat menjadi romusha. Namun bagi golongan masyarakat kaya seperti pedagang, pejabat, orang-orang Cina dapat menyogok pejabat pelaksana pengerahan tenaga atau dengan membayar kawan sekampung yang miskin untuk menggantikannya sehingga terhindar dari kewajiban untuk menjadi romusha.
Mula-mula tugas yang dilakukan bersifat sukarela dan tidak begitu jauh dari tempat tinggal penduduk, namun lama-kelamaan pengerahan tenaga kerja berubah menjadi paksaan. Di tempat-tempat mereka bekerja, mereka diperlakukan secara kasar. Kesehatan tidak dijamin, makanan tidak cukup, serta pekerjaan yang sangat berat. Bahkan, untuk pakaian para romusha hanya menggenakan celana dari karung goni untuk menutupi auratnya. Bahan karung goni sendiri merupakan bahan yang tidak nyaman dikenakan dan menjadi sarang kutu. Dengan keadaan yang sedemikian rupa tentu saja menjadi sarang bagi penyakit, sehingga banyak diantara romusha yang meninggal ditempat kerjanya karena sakit, kekurangan makan serta kecapaian ataupun kecelakaan. Berita buruk ini kemudian tersebar dan menjadi rahasia umum, sehingga banyak orang yang takut menjadi romusha.
Untuk menghilangkan ketakutan penduduk dan menutupi rahasia itu, sejak tahun 1943 Jepang melancarkan kampanye baru, yang mengatakan bahwa romusha adalah “prajurit ekonomi” atau “pahlawan pekerja”. Penggunaan kata “kuli” bagi romusha dianggap menghina dan merendahkan derajat “prajurit ekonomi” ini. Mereka digambarkan sebagai prajurit-prajurit yang menunaikan tugas-tugas sucinya untuk angkatan perang Jepang dan sumbangan mereka terhadap usaha perang itu mendapat pujian setinggi langit.
Pengerahan romusha tidak lain karena motivasi Jepang memenangkan perang. Motivasi Jepang ekspansi ke selatan adalah faktor ekonomi, khususnya ketertarika Jepang dalam bidang eksploitasi sumber-sumber ekonomi padi, minyak tanah, batu bara, karet dan barang-barang krusial lainnya di daerah-daerah baru yang dikuasainya untuk mendukung peperangan. Hal tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa Jepang tidak memiliki potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang cukup guna menghadapi perang jangka panjang melawan sekutu. Sedangkan tujuan utama Jepang pasca pendudukan adalah menyusun kembali rencana-rencana ekonomi bagi dominasi ekonomi jangka panjang terhadap Asia Timur dan Tenggara, dan menggairahkan kembali perekonomian Indonesia guna mendukung perang.

Sumber :
Isnaeni, Hendri dan Apid. 2008. Romusa Sejarah yang terlupakan. Yogyakarta : Ombak
Sumarmo, AJ. 1991. Pendudukan Jepang dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Semarang : IKIP Semarang Press

Share
Tweet
Pin
Share
No comments



Dalam Sejarah Zarman dahulu, Penyakit Mental ilness, Sering dihubungkan dengan Hal berbau Supranatural. 


hal ini disebabkan oleh Deviant Behaviour (perilaku tidak biasa/menyimpang) dari pengidap gangguan jiwa. Makanya karena  belum diketahui sebabnya dari sisi Ilmiah, Orang Zaman dulu akhirnya hubung2kan dengan hal2 berbau Gaib atau Mistik.


Jika di Timur Tengah, Masyarakatnya mengenal Istilah Jin, Budaya Jawa mengenal banaspati,pulung,teluh 


Masyarakat Asia Timur, Misalnya China, Jepang, Korea.


Mereka mengenal entity berupa Siluman sebagai penyebab masalah mental.


Di Jepang zaman heian, sekitar 700-1100 Masehi. Mitos yang umum pada masyarakat jepang kala itu pada penderita gangguan mental ialah mereka kerasukan "kitsune" . atau siluman atau hantu rubah.


Dimana menurut kepercayaan orang jepang jaman dahulu ada kitsune atau siluman rubah baik, kedewaan ada yang bersifat jahat dan suka menyesatkan manusia.


Yang jahat itu kadang suka merasuki manusia.


Kemudian dikenal sebagai istilah kitsunetsuki (狐憑き )


Ahli cerita rakyat Lafcadio Hearn pernah mengisahkan peristiwa kerasukan kitsune dalam volume pertama buku karyanya Glimpses of Unfamiliar japan , saya ringkas begini :


"Aneh memang kegilaan orang yang dirasuki iblis rubah. Kadang-kadang mereka berlarian telanjang sambil berteriak-teriak di jalanan."


Mirip gambaran penderita gangguan jiwa pada budaya negara lain zaman dulu yang sama-sama anggap karena makhluk gaib.


Kemudian, upacara mengusir setan kitsune lazim dilakukan di kuil-kuil jepang untuk membujuk kitsune agar mau keluar dari tubuh orang yang sedang dimasukinya.  Di jepang zaman dulu, kalau usaha lemah lembut membujuk rubah tidak berhasil atau pendeta kebetulan tidak ada, korban

kitsunetsuki dipukuli atau dibakar sampai terluka parah agar kitsune mau keluar.


Perlakuan dan stigma buruk masyarakat jepang pada ODGJ yang kerasukan kitsune (kitsunetsuki) kadang tak hanya pada penderitanya. Kalau ada seorang anggota keluarga yang kerasukan kitsune, seluruh anggota keluarga korban itu akan diasingkan oleh masyarakat.


Stigma gangguan jiwa karena sebab gaib semacam ini di belahan dunia manapun mungkin kurang lebih sama.


Miris memang, penderita gangguan jiwa selain menghadapi sakit, kadang menghadapi anggapan dan perlakuan tidak adil dari masyarakat karena label berbau mistik.


Bahkan di Eropa pada abad kegelapan, pengidap masalah mental sering dijadikan sasaran perburuan penyihir.

Mereka diburu lalu dibakar hidup2.


Maka beruntunglah kita yang sudah hidup di zaman sekarang.


Hampir semua penyakit sudah ditemukan obatnya.


Termasuk Gangguan kejiwaan karena gangguan biologis pada otak.


Misal skizofrenia karena celah syaraf kelebihan zat neurotransmitter dopamin.


Karena sudah diketahui penyebabnya secara ilmiah, tentu jika kita mau berobat yang benar berobat ke layanan kesehatan.


Misal Rumah sakit atau Mental Hospital.


Obatnya sudah terjangkau dengan BPJS. Jadi manfaatkan sebaik2nya.


Jangan mutar2 ke pengobatan alternatif.


Karena gangguan jiwa itu bukanlah karena diganggu makhluk gaib. Tapi sebuah penyakit. Layaknya penyakit fisik lain. Dan obatnya sudah ada.

Tinggal disiplin berobat sampai sembuh.


https://en.m.wikipedia.org/wiki/History_of_mental_disorders

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kitsune

https://japanesestation.com/culture/myth-urban-legend/legenda-kitsune-tsuki-roh-kitsune-yang-merasuki-tubuh-manusia

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About Me

About Me

Pengikut

Label

  • Cerita Komedi
  • Curhatanku
  • Motivasi
  • Tutorial

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • youtube

Postingan Populer

  • ALUR CERITA : ALUR MAJU, ALUR MUNDUR, DAN ALUR CAMPURAN
    1. Alur Maju : Ceritanya bergerak maju. Contoh sederhananya adalah misalnya cerpen itu awalnya menceritakan tentangg seorang anak k...
  • IDE KONTEN INVIDEO AI
    IDE KONTEN INVIDEO AI buatkan 3 kata motivasi bergaya stoicism  dalam bahasa inggris 
  • Balada Jomblo dan Penderita gangguan jiwa
    Balada Jomblo ODS .. terkadang, enggak enak juga "terkenal" di lingkungan  karena memiliki status ODS (Orang dengan skizofreni...
  • Cara Menulis Alur & Plot Cerita
    Oleh: Joni Lis Effendi Trik Sederhana Menulis Alur dan Plot Cerita Galau mau bedain alur dan plot? nih, KA kasih tahu gimana caranya ...
  • Echoes of the Night (confia en mi)
    In the silence of the cold night,   my sighs drift like the light,   I feel you near, though you're far,   like whispers echoing in a st...
  • Una Franela
    [Verse 1] Algo va a pasar esta noche Esto va a explotar esta noche Yo quiero masa en la pista Como la lengua de Dali [Verse 2] Somos eso que...
  • Kena Gigi, Uang Kembali
    Kena GIGI, Uang Kembali. Tahun 2008 dahulu,  ialah zaman jaya nya Game Online  PC dan Warnet khusus Game. Saat itu aku kecanduan Game Onli...
  • Kisah PSK paruh baya.
    Zaman itu aku masih 18 tahun. Masih hobi berpetualang keluar kota bila hari libur kerja. Suatu hari , saat pulang dari Surabaya dengan Kere...
  • Tragedi pengantin sunat
    Tragedi Pengantin Sunat. Aku mengalami sirkumsasi atau disunat saat SD. Akupun tak tahu awalnya, Awal Mulanya Bapakku saat magrib mengaja...
  • Esperando por Ti
    [Verse] En la ciudad la noche brilla Espero tu señal de vida Los coches pasan luces negras Tu llegada mi alma riega [Verse 2] Mariposas en e...

Arsip Blog

  • ▼  2026 (1)
    • ▼  September (1)
      • Cerpen Star Stealing Girl
  • ►  2025 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2024 (95)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (77)
    • ►  Oktober (17)
  • ►  2022 (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2021 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Februari (4)
  • ►  2020 (7)
    • ►  Desember (5)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2019 (33)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (5)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (6)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2018 (16)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2017 (13)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2016 (4)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2015 (26)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (14)
    • ►  Agustus (4)

Created with by ThemeXpose | FreeBloggerTemplates.org